Oleh : Rahma Wati Matondang ( KKL 2020 IAIN Padangsidimpuan) dikutip dari buku karangan ' Prof. Dr. Mutawalli As-sya'rawi
"Dan kamu lihat gunung-gunung itu , kamu sangka tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. Begitulah perbuatan Allah yang membuat kokoh tiap-tiap sesuatu , sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Q. S An- naml : 88)
Apabila kita membaca ayat ini pasti kita menjadi heran karena menyatakan bahwa gunung-gunung berjalan seperti jalannya awan , sedangkan yang kita saksikan dengan mata kita adalah gunung itu tetap dan tegak , beli, dan sama sekali tidak bergerak. Itu berarti penglihatan kita terhadap diamnya gunung adalah penglihatan semu. Ada sesuatu ciptaan Allah SWT. Yang tersembunyi di belakang kita. Selama penglihatan itu masih berupa sangkaan atau perkiraan , maka belumlah dapat dikatakan pasti.
Itulah kebesaran dan takdir Allah bahwa apa yang kita lihat selalu sesuatu yang hakiki ( yang sebenarnya)
Gunung yang besar tidak mungkin tersembunyi dari penglihatan kita. Dan Allah menyamakan model perjalanan gunung seperti perjalanan awan. Hal yang dapat kita ketahui bahwa awan tidak mampu ( berpotensi bergerak apabila dengan kemampuan sendiri. Dia akan bergerak apabila ada kekuatan yang mendorongnya yaitu angin. Tanpa angin maka awan akan berada ditempatnya dan tidak bergerak. Begitu pula halnya dengan gunung tidak mampu bergerak sendiri dan tidak mampu beranjak dari tempatnya semula pindah ke lokasi lain.
Gunung terletak di permukaan bumi dan tidak ada kekuatan lain yang mampu menggerakkannya kecuali bumi itu bergerak sendiri.
Kita tidak merasakan adanya perputaran bumi pada porosnya ( rotasi bumi), begitu pula tidak merasakan adanya perjalanan gunung-gunung.
Ada sesuatu yang perlu diperhatikan bahwa dengan berjalannya awan terjadi beberapa musim , yaitu musim hujan, dan musim kemarau, dan membuat matahari kadang kala muncul kadangkala tersembunyi dibalik awan.
Memang banyak hal yang bisa kita temukan kalau kita mau menelusuri dan mengkaji secara lebih luas dan mendalam tentang alam , tetapi kebanyakan dari kita tidak mau memperhatikan.
Ada empat belas ayat dalam Al-Qur'an yang menyerukan untuk 'berjalanlah dimuka bumi ' dan bukan 'ala ' yang berarti diatas bumi. Hal ini sesuai dengan hakikat ilmiah bahwa atmosfir bumi termasuk dalam wilayah bumi. Kita tidak keluar dari bumi kecuali bila keluar dari atmosfer bumi. Pesawat terbang yang terbang di angkasa adalah tetap terbang di bumi , kecuali pesawat atau satelit luar angkasa yang terbang di luar atmosfer bumi.
Jadi bumi dan atmosfer yang mengelilingi nya adalah satu kesatuan yaitu bumi. Jadi kalimat 'berjalanlah dimuka bumi' mencakup antara muka bumi dan atmosfer bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar