Oleh : Rahma Wati Matondang ( KKL IAIN Padangsidimpuan 2020) dikutip dari buku karangan Prof. Dr. mutawalli asy-sya'rawi
" Lalu kami hapuskan tanda malam dan kami jadikan tanda siang itu terang"
( Q.S Al-Isra :12)
Suatu mukjizat , Allah SWT. Mensifatkan siang dengan terang. Siangkah yang terang atau mata yang terang ? .
Memang yang dapat melihat itu mata , akan tetapi hakikat ilmiahnya bukan demikian. Secara ilmiah terbukti bahwa Sinar matahari sebagai sumber cahaya memancarkan sinarnya ke sebuah benda, kemudian benda tersebut memantulkan kembali sinar yang diterimanya dan ditangkap oleh retina mata sehingga mata dapat melihat.
Jadi yang menjadikan mata dapat melihat bukan zat mata itu sendiri, tetapi karena ada cahaya yang dipantulkan ke mata oleh benda yang menerima cahaya tersebut. Kalau sinar atau cahaya itu sirna berganti dengan kegelapan maka matapun tidak dapat melihat sesuatu kecuali bila ada berkas cahaya lainnya.
Ayat Allah SWT. Berikut memang menunjukkan makna yang sangat mendalam.
"Dan kami jadikan tanda siang itu terang"
Jadi yang terang adalah siangnya, bukan mata.
Kalau Al-Qur'an itu bukan dari Allah SWT. tetapi dari Muhammad , maka bagaimana Muhammad dapat berspekulasi dengan membahas ilmiah yang begitu serius?
Dari mana kiranya keterangan yang diperoleh Rasulullah tentang masalah ilmiah yang serius ini?
Tidakkah permasalahan ini cukup memberi bukti akan tepatnya pemilihan kita untuk beriman kepada Allah SWT?
Suatu sikap yang mengimani bahwa Al-Qur'an dengan keajaibannya diturunkan dari sisi Allah Maha Pencipta seluruh alam semesta.
Sumber : Prof. Dr. M.Mutawalli asy-sya'rawi , Bukti-bukti Adanya Allah, ( Jakarta : Gema Insani Press, 2000)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar