Minggu, 09 Agustus 2020

Parent Day Sebagai Terobosan Pendidikan di Indonesia yang Efektif

Oleh : Rahma Wati Matondang ( KKL IAIN Padangsidimpuan) 

A.    Kondisi Pendidikan di Indonesia saat ini

            Menyangkut masalah pendidikan di Indonesia, A. Qodry Azizy, mantan Dirjen Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, menyimpulkan bahwa penyebab krisis moral adalah kesalahan pendidikan nasional. Mengutip pendapat H. A. R Tilaar, Qodri menguraikan beberapa kelemahan yang dimiliki sistem pendidikan nasional, yaitu:

1.      Sistem pendidikan yang kaku dan sentralistik. Implikasi dari sistem ini adalah uniformitas dari segala bidang , seperti seragam sekolah, kurikulum, materi ujian (UN), system evaluasi, dan sebagainya.

2.      Sistem pendidikan nasional kurang mempertimbangkan kenyataan di masyarakat. Masyarakat dipandang sebagai objek daripada subjek pendidikan . Masyarakat tidak pernah dilibatkan dalam keputusan dan kebijakan pendidikan. Akibatnya, pendidikan dijalankan pemerintah mengalami aliansi dari kebutuhan masyarakat.

3.      Sistem pendidikan nasional cenderung birokratik. Orientasi kekuasaan yang dominan melemahkan system pelayanan dalam dunia pendidikan

4.      Ketika sekolah direduksi menjai perpanjangan alat birokrasi pemerintah, maka otomatis guru dan siswa pun ikut tereduksi karenanya. Nilai-nilai idealism yang seharusnya memancar dari lubuk profesinalismenya menjadi redup dan mandul akibatnya kuatnya birokrasi.

5.      Sistem pendidikan yang dilaksanakan kurang beriorentasi kepada penumbuhan kreativitas dan produktivitas siswa inovatif yang ingin tahu.[1]

 

B.     Solusi yang Ditawarkan

            Berdasarkan kelemahan-kelemahan system pendidikan yang telah diuraikan A. Qodry Azizi, penulis akan mencoba memberikan solusi dari beberapa kelemahan saja, yaitu Sistem pendidikan nasional kurang mempertimbangkan kenyataan di masyarakat, dan Sistem pendidikan yang dilaksanakan kurang beriorentasi kepada penumbuhan kreativitas dan produktivitas siswa inovatif yang ingin tahu.

1.      Sistem pendidikan nasional kurang mempertimbangkan kenyataan di masyarakat

      Masyarakat dipandang sebagai objek daripada subjek pendidikan . Masyarakat tidak pernah dilibatkan dalam keputusan dan kebijakan pendidikan. Akibatnya, pendidikan dijalankan pemerintah mengalami aliansi dari kebutuhan masyarakat.

      Walaupun, kita sebagai pihak sekolah tidak dapat mengubah keputusan dan kebijakan pemerintah yang hanya melihat masyarakat sebagai objek, tetapi kita sebagai pihak bisa membuat suatu kegiatan yang menjadikan masyarakat sebagai subjek, yaitu dengan adanya Parent Day.

      Parent Day yaitu suatu hari ketika yang mengajar bukan guru sebagaimana hari-hari biasa , melainkan orangtua siswa dan warga masyarakat lainnya yang memiliki keahlian di bidang tertentu yang diperlukan siswa dan mempunyai komitmen di bidang pendidikan.

      Kegiatan yang hanya dilakukan selama sehari, ini bisa memberikan dampak yang baik selama berhari-hari bahkan bertahun-tahun  kepada siswa dan guru.

       

2.      Sistem pendidikan yang dilaksanakan kurang beriorentasi kepada penumbuhan kreativitas dan produktivitas siswa yang inovatif dan ingin tahu.

      Dengan dilaksanakannya Parent Day, siswa merasa sangat diuntungkan karena benar-benar mendapatkan informasi baru, actual, mendalam, dan demonstratif. Sebagai contoh, ketika seorang ahli bedah saraf menjelaskan tentang system kerja saraf manusia dengan alat peraga yang fungsional, siswa benar-benar memperoleh penjelasan yang lengkap dan mendalam. Disamping itu, banyak siswa yang lantas memiliki imajinasi menjadi dokter. Begitu juga dalam bidang-bidang lainnya, senantiasa mendapat renspon positif.

      Setelah siswa mendapatkan ilmu langsung dari masyarakat, daya kreativitas dan produktivitas mereka semakin meningkat, karena rasa ingin tahu mereka tentang cita-cita mereka telah terjawab langsung dari ahlinya. Mereka semakin bersemangat untuk menggapainya, sehingga ide kreativ mereka akan muncul dan mereka mulai aktif berkreasi dalam memproduksi.[2]

C.     Pihak-pihak yang dipertimbangkan dapat membantu terwujudnya Parent Day

1.      Kepala Sekolah

      Jabatan kepala sekolah diduduki oleh seseorang yang menyandang profesi guru. Kepala sekolah memiliki fungsi yang berdimensi luas. Salah satu fungsi dari kepala sekolah untuk membantu terwujudnya parent day, yaitu : “Kepala sekolah sebagai inovator” Kepala sekolah yang bermutu selalu melakukan inovasi secara berkelanjutan. Inovasinya diarahkan untuk memenuhi tuntutan “mutu masa depan”. Sesuai kebutuhan masyarakat. Tindakan inovasi kepala sekolah dilakukan untuk mengoptimalkan sumber daya yang dimilki atau dapat diperoleh dari lingkungan.[3]

      Berdasarkan fungsi yang  dijelaskan, untuk memenuhi tuntutan “masa depan” , sesuai kebutuhan masyarakat, Parent Day adalah salah satu inovasi  yang bisa ditawarkan kepada kepala sekolah . Kepala sekolah dengan fungsi ini, dapat membantu terwujudnya Parent Day.

2.      Para Guru

      Guru yang memiliki peran sebagai penggerak, yaitu mobilisator yang mendorong dan menggerakkan system organisasi sekolah. Untuk mendorong dan menggerakkan system sekolah yang maju memang membutuhkan ide yang brilian guna mengefektifkan kinerja sumber daya manusia secara maksimal dan berkelanjutan[4]Parent day bisa ditawarkan sebagai ide brilian kepada guru untuk menjalankan perannya sebagai penggerak. Guru juga salah satu pihak yang dapat dipertimbangkan untuk terwujudnya parent day.

3.      Orangtua / Wali Murid

      Orangtua berperan penting dalam pendidikan seorang anak. Joyce L. Epstein mengungkapkan bahwa cara sekolah membina anak didik direfleksikan dalam cara sekolah memperlakukan keluarga anak didik. Jika pendidik/guru memandang anak didik sebagai terdidik ( student), mereka akan cenderung melihat sekolah terpisah dari keluarga anak didik. Keluarga cenderung melakukan pekerjaannya tanpa peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Jika pendidik memandang anak didik sebagai anak-anak (children), mereka akan memandang keluarga sebagai tim kerjasama (partners) dengan sekolah dalam mendidik dan mengembangkankan pendidikan anak didik. Parent day akan terwujud jika keluarga menjadi partners tenaga pendidik , karena parent day sendiri merupakan suatu kegiatan yang membutuhkan kerjasama antara tenaga pendidik dan orangtua. Parent day adalah hari dimana orangtua atau masayarakat  bisa memberikan pengetahuan mengenai profesinya kepada seluruh siswa di sekolah.

D.    Langkah-langkah strategis yang harus dilakukan untuk mengimplementasikan gagasan sehingga tujuan atau perbaikan yang diharapkan dapat tercapai

            Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan sangatlah sederhana, tidak terlalu membutuhkan persiapan yang besar. Pihak sekolah hanya perlu mengadakan pertemuan dengan para orangtua murid , membahas apakah para orangtua siap dan mau untuk diundang ke sekolah sebagai narasumber atau pendidik dalam jangka wakttu sehari. Dengan jumlah siswa yang begitu banyak, tentunya pasti beberapa dari orangtua mereka bersedia dan berkempatan untuk memberikan pengetahuannya. Para orangtua mungkin berlomba-lomba memberikan pengetahuannya karena ada anaknya di sekolah tersebut, yang bisa menjadikannya bangga sebagai orangtua, sehingga para orangtua siswa mungkin saja menjadi guru dalam satu hari tanpa pamrih.


                [1] Ahmad Barizi, Menjadi Guru Unggul, ( Yogyakarta : Ar-ruzz Media, 2014), hlm. 50

                [2] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan , ( Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2015), hlm 40

                [3] Sudarwan denim, Profesi kependidikan, ( Bandung : Penerbit Alfabeta, 2013), hlm. 82

                 [4] hlm. 45


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Qur'an membahas tentang rahim

Oleh : Rahma Wati Matondang ( KKL IAIN Padangsidimpuan 2020)  Kini kita mulai membahas keajaiban janin dalam rahim, sebagaimana diutarakan A...